Dipublish 15 September 2026

Buku Contekan Saat Dewasa

Contekan dari Orang yang Pernah Bingung (Karena Dewasa Tak Ada Modulnya)

Tujuan dan Pengalaman

Pas di Gramedia Jalma, aku keliling setiap sudut ruangan untuk mencari buku yang menarik, awalnya aku udah menggenggam buku fiksi yang berjudul Animal Farm, tapi karena semalam udah checkout Laut Bercerita, akhirnya aku ke bagian Self Improvement untuk penghijauan otak.

Awal-awal baca buku (self improvement) ini, rasanya agak nyesel, salah satunya karena di bagian pendahuluan, kalimat pertama nya adalah "Kalau kamu buka halaman ini karena hidupmu lagi acak-acakan, Selamat!", rasanya ga relate dengan kondisi ku, lanjut baca lagi, "ah, ga lagi-lagi deh beli buku yang kurang terkenal" batinku.

Tapi pandangan ku ke buku ini berubah ketika udah sampai di pertengahan buku, buku ini bagus, karena aku jadi tahu sedikit banyak gambaran bagaimana kondisi seseorang setelah menikah dan memiliki anak, dan salah satu bagian yg hebat adalah bagaimana sikap bijak mbak Yosia saat menghadapi suaminya ketika ketahuan selingkuh.

Buku ini memiliki 2 bagian dan 8 bab, diantaranya yaitu

Bagian I: Lomba Kehidupan, Emang Pernah Daftar? Bagian II: Merapikan Hidup, Menentukan Arah Sendiri
Bab I: Mengapa Semua Orang seperti Berlomba? Bab VI: Merawat Diri dari Dalam
Bab II: Lomba Punya Pasangan Bab VII: Belajar Mengolah Luka, Menata Diri
Bab III: Lomba Bikin Rumah Tangga Bahagia Bab VIII: Memilih Jalan Hidup
Bab IV: Lomba Punya Anak
Bab V: Lomba Jadi Sukses: Harta, Jabatan, dan Validasi

Hidup itu bukan perlombaan, setiap orang punya latar belakang, prinsip, dan nilai-nilai hidup yg berbeda. Boleh aja merasa tertinggal, boleh aja capek, boleh aja berhenti sebentar, tapi jangan jadikan hidup orang sebagai penggaris untuk mengukur langkah kita.

Salah satu hal yang relate dari bahasan di buku ini adalah tekanan dari orang-orang sekitar. Kadang, orang-orang memenuhi 'basa-basi' mereka dengan banyak pertanyaan, yang mungkin orang-orang tersebut ga memahami konsekuensi dari pertanyaannya.

Asumsiku adalah, orang yg menanyakan hidup kita itu ga bener bener peduli dengan kita, melainkan sebagai patok pencapaian, contoh, pertanyaan "udh nikah belum?" Itu sebenarnya adalah "nih anakku udah nikah, kamu kapan kamu nikah?", ya walaupun ga semua orang kek gini sih.

Padahal, pernikahan itu sama halnya dengan gedung, gedung yg kokoh, harus memiliki pondasi yang kuat, mungkin aja kita sedang membangun pondasi2 itu sebelum akhirnya menikah, lagipula suatu hubungan yg dibangun atas dasar validasi itu cenderung rapuh, klo validasinya udah terpenuhi atau tergeser, siapa yang bisa menjamin hubungan tadi tetap kokoh?

Berhenti berasumsi bahwa orang lain harus menjalani pola hidup tertentu, hanya karena udah nikah duluan, seolah2 orang lain harus menikah dulu biar dianggap memiliki pencapaian yang "setara".

Ini baru sekedar tanya jawab, blm lagi komentar tentang pilihan hidup orang, seolah2 kehidupan orang adalah ruang diskusi bebas.


Walaupun hidup ku belum sampai di fase berumah tangga, tapi setelah menikah, pasti muncul lagi pertanyaan-pertanyaan berkedok basa-basi, yaitu "kapan punya anak?", gimana klo pertanyaannya dibalik, "mengapa punya anak?" Apakah mereka akan menjawab "biar nanti ada yang rawat pas udah tua", padahal, punya anak itu bukan prestasi, bukan juga investasi di masa tua, dan yang paling penting, anak bukan pewaris cita-cita yang gagal kita capai.

Untuk menjadi orang tua yang hadir secara utuh, dibutuhkan keberanian untuk terus belajar, bersalah, meminta maaf, dan mencoba lagi.

Menjadi orang tua juga bukan cuma sekedar lahir-melahirkan, tapi bagaimana merubah pola asuh yang buruk dan luka batin yang diwariskan dari masa lalu, juga siap untuk tidak merasa selalu benar sehingga tidak keberatan untuk meminta maaf jika berbuat salah.


Tentang sukses, sebenernya definisi sukses setiap orang itu kan beda-beda, bahkan definisi sukses ku pun bisa berganti-ganti seiring berjalannya waktu, itulah mengapa jangan jadikan definisi sukses orang lain sebagai standar kesuksesan kita.

Tentang karier, di buku ini dijelaskan bahwa tidak masalah jika karier seseorang belok, karena kadang kali, hidup ga selalu mengikuti GPS kita, dan di buku ini pun diajarkan rumus bagaimana caranya menata ulang mimpi dan karier ketika hidup berubah.


Self care atau merawat diri itu ga selalu tentang menambah kesenangan sementara, tapi bisa juga dengan mengurangi hal yang menyakiti dan menjaga kesehatan mental, karena kadang yang membuat kita lelah itu bukan karena menanggung beban yang terlalu berat, tapi kita selalu membawa / melakukan hal-hal yang sebenarnya bisa kita tinggalkan.

Data dari WHO dan ILO (2021) mencatat:

Orang yang bekerja lebih dari 55 jam seminggu punya resiko 35% lebih tinggi kena stroke, dan 17% lebih tinggi terkena penyakit jantung.

Tentang lelah, sebenernya istirahat itu kebutuhan dasar manusia, sama seperti makan. Istirahat juga hak manusia, bukan "hadiah" dari kerja keras yang lama, jadi, ga perlu alasan "aku udh capek banget" untuk memenuhi hak istirahat kita. Di buku ini juga diajarkan bagaimana menjaga energi kita dengan menulis aktivitas-aktivitas yang menambah dan menguras energi, biasanya orang-orang membuat todo list agar produktif, tapi ada hal baru yang aku dapet dari buku ini, yaitu stop-doing list, yaitu menulis hal-hal yg bisa ditunda atau dilepaskan.


Semua orang pasti pernah terluka, dan setiap luka yang dibiarkan akan membentuk pola, seperti takut ditinggal, takut ditolak, atau bahkan bisa sangat kompetitif walau memiliki prestasi yang banyak. Di buku ini, langkah pertama merawat diri dari dalam adalah keberanian untuk menamai luka, menyadari polanya, dan mengakuinya sebagai bagian dari perjalanan hidup kita.

Setiap luka yang dirawat bisa berubah jadi ruang baru untuk tumbuh.

Boleh lemah, boleh rapuh, asal jangan berhenti merawat diri.

Dengan merawat diri kamu sedang memberi cinta pada hidupmu sendiri.

Di buku ini juga terdapat refleksi singkat tentang luka yang sering muncul, pola yang dilihat, serta ikatan yang ingin dilepaskan. Menurutku ini bab yang lumayan berat dibandingkan dengan bab-bab lainnya, karena, siapa juga yang nyaman jika diajak bertemu dan menatap luka yang sudah lama terkubur, walaupun tujuannya sangat bijak, yaitu melepas luka.


Kosa Kata Baru

Kata Makna
Aktualisasi menggunakan seluruh potensi, bakat, dan kemampuan yang ada di dalam diri seseorang untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri
Self-compassion menerima diri sendiri apa adanya.